Fans AC Milan Desak CEO Giorgio Furlani Dipecat Usai Musim Penuh Kekacauan – Milan – Gelombang protes besar-besaran meletus di kubu AC Milan. Para penggemar, yang dikenal dengan sebutan Rossoneri, secara terbuka menyuarakan tuntutan keras agar CEO Giorgio Furlani segera dipecat. Sorakan “GF Out” dan spanduk penolakan membanjiri San Siro serta menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.
Alasan di Balik Kemarahan Fans
Ketidakpuasan ini bukanlah kebencian yang tiba-tiba muncul, melainkan akumulasi rasa frustrasi selama tiga musim terakhir . Puncak kemarahan terjadi setelah kekalahan memalukan dari Atalanta yang membuat sebagian besar penonton di San Siro meninggalkan stadion sebelum pertandingan usai . Secara kolektif, para fans menganggap Furlani sebagai simbol utama dari apa yang mereka sebut sebagai “musim penuh kekacauan” — sebuah periode tanpa identitas, tanpa ambisi juara, dan hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata .
Latar belakang Furlani yang merupakan seorang ahli finansial (lulusan Harvard, mantan petinggi Goldman Sachs dan Elliott Management) dinilai terlalu dingin dan kurang memiliki “nyali” sepak bola. Di bawah kepemimpinannya, AC米兰 dianggap telah kehilangan sisi bonus new member romantismenya dan berubah menjadi “pabrik neraca” .
Boikot dan Aksi Protes yang Eskalatif
Menjelang laga melawan Atalanta, Curva Sud (basis suporter keras Milan) menerbitkan manifesto panjang berisi kecaman pedas. Mereka menuduh manajemen telah mengkhianati warisan klub, tidak hanya karena hasil buruk di lapangan, tetapi juga karena pendekatan yang tidak menghormati kultur dan sejarah panjang Milan .
Salah satu momen paling dramatis terjadi ketika ribuan ponsel di tribun dinyalakan membentuk tulisan “GF Out” (Giorgio Furlani Out) di kegelapan stadion. Aksi ini merupakan bentuk protes simbolis yang kemudian viral di media sosial dan mengundang perhatian media sepak bola Eropa . Para fans juga mengancam akan terus melakukan aksi boikot jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi.
Titik Balik: Pemecatan Paolo Maldini
Akar masalah utama yang terus digoreng oleh fans adalah keputusan Furlani untuk memecat Direktur Teknik legendaris, Paolo Maldini, pada tahun 2023 . Maldini dianggap sebagai “jembatan emosi” antara klub dengan para penggemar.
Setelah Maldini hengkang, pasar transfer Milan dinilai amburadul dan tanpa arah yang jelas. Fans menilai tidak ada lagi figur yang berani menantang kebijakan “pelit” pemilik klub, Gerry Cardinale. Banyak pihak menilai bahwa di balik Furlani, sosok spaceman Cardinale-lah yang sebenarnya menjadi dalang kebijakan penghematan ekstrem, tetapi karena dia adalah pemilik, amarah publik lebih mudah diluapkan kepada CEO yang menjadi ujung tombak eksekusi di lapangan .
Implikasi Olahraga: Ancaman Zona Eropa
Di atas kertas, secara matematis Milan masih memiliki peluang lolos ke Liga Champions. Namun, secara psikologis, kekacauan internal ini jelas memengaruhi performa tim di lapangan. Para punggawa Milan bermain tanpa kreativitas dan tekanan mental yang besar karena ditinggal pemain inti tanpa pengganti yang sepadan.
Jika Milan gagal lolos ke Liga Champions musim depan, kerugian finansial yang diderita klub akan menjadi bumerang bagi strategi “hidup hemat” yang selama ini mereka usung. Hal ini akan semakin memperparah posisi Furlani di mata pemilik dan menjadikan tuntutan penggemar semakin tidak terbendung.