mahjong
situs slot gacor
mahjong ways
slot bonus 100

Hari Buruh 2026, Pakar Unair Soroti Fenomena Pengangguran Terdidik

Hari Buruh 2026 Pakar Unair Soroti Fenomena

Hari Buruh 2026 Pakar Unair Soroti Fenomena Pengangguran Terdidik – Peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026 menjadi momentum refleksi atas kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Bagong Suyanto, menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan: meningkatnya angka pengangguran terdidik di tengah lesunya ekonomi nasional .

Pengangguran Terdidik: Ancaman Baru bagi Lulusan Perguruan Tinggi

Prof Bagong menilai kondisi sarjana kini berada di posisi yang semakin rentan. Pengangguran terdidik adalah individu yang sedang mencari atau belum bekerja namun memiliki pendidikan SMA ke atas. Di tengah kondisi ekonomi yang lesu, fenomena ini terus bertambah .

Salah satu penyebab utama adalah ketidaksesuaian keterampilan (mismatch) antara lulusan dengan kebutuhan industri. Kurikulum pendidikan dinilai kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja yang dinamis. Akibatnya, banyak perusahaan lebih memilih merekrut tenaga kerja berpengalaman daripada lulusan baru .

“Sistem pendidikan kita masih terlalu berorientasi pada teori, sementara industri slot gacor saat ini membutuhkan lulusan yang memiliki keterampilan praktis,” ungkapnya.

Kerentanan Sistem Outsourcing

Prof Bagong juga menyoroti sistem kerja kontrak (outsourcing) yang melemahkan posisi tawar buruh. Sistem ini mengurangi kewajiban perusahaan terhadap hak-hak pekerja, sehingga jaminan kerja jangka panjang dan kesejahteraan buruh menjadi terabaikan .

“Pengusaha terbebas dari berbagai kewajiban yang seharusnya karena menerapkan sistem kontrak. Ini adalah model kerja yang mensubordinasi buruh,” tegasnya .

Krisis di Sektor Informal

Selain sektor formal, pekerja di sektor informal juga menghadapi tantangan serius. Prof Bagong menyoroti tren pekerja gig economy, terutama pengemudi ojek online. Menurutnya, penggunaan istilah ‘mitra’ seringkali hanya menjadi samaran bagi kerentanan yang sebenarnya.

“Sebutan mitra sebetulnya untuk menutupi proses eksploitasi yang dilakukan. Posisi driver ojol sering kali tidak berdaya di bawah tekanan kerja yang ditawarkan pemilik aplikasi. Mereka menuruti semua yang sudah diatur oleh pemilik aplikasi,” tegas Guru Besar FISIP Unair tersebut .

Para “mitra” ini harus menanggung sendiri seluruh risiko pekerjaan, mulai dari biaya operasional hingga minimnya jaminan sosial .

Mismatch Kompetensi dan Kebutuhan Industri

Prof Bagong mengidentifikasi bahwa ketidaksesuaian antara ketersediaan lapangan kerja dengan profil tenaga kerja semakin memperparah kondisi. Banyak perusahaan baru yang beroperasi dengan sistem padat modal. Sementara itu, mayoritas tenaga kerja membutuhkan sektor yang bersifat padat karya. Akibatnya, terjadi ketidakcocokan yang menyebabkan tingginya angka pengangguran .

Dalam jurnal Pengangguran Terdidik dan Fenomena Overqualification di Pasar Kerja Indonesia oleh Nadiah Dwi Lestari dkk, disebutkan bahwa tingkat tinggi rendahnya pengangguran terdidik ditentukan oleh banyak tidaknya lapangan pekerjaan yang tersedia dan tingkat penyerapan tenaga kerja .

Solusi: Intervensi Kebijakan dan Reformasi Pendidikan

Untuk mengatasi masalah ini, Prof Bagong merekomendasikan sbobet intervensi kebijakan yang nyata dari pemerintah dalam membuka lapangan pekerjaan yang sesuai dengan demografi Indonesia.

“Pemerintah perlu menggeser orientasi dari industri yang padat modal ke industri yang padat karya. Tanpa ini, maka isu pengangguran akan masih terus bermunculan,” tegasnya .

Perguruan tinggi juga harus melakukan transformasi pembelajaran. Proses pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan materi teoritis. Kurikulum harus dirancang untuk membentuk mahasiswa yang kritis, adaptif, dan kolaboratif .

Soft Skills sebagai Kunci Sukses

Soft skills seperti adaptasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pemecahan masalah sangat dibutuhkan oleh perusahaan saat ini. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui pengalaman riset. Keterampilan ini membentuk mereka untuk mampu merumuskan pertanyaan secara sistematis dan menarik kesimpulan berdasarkan data.

Tanpa penguasaan kemampuan tersebut, lulusan perguruan tinggi akan terus kesulitan memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif. Momentum Hari Buruh 2026 menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan angka, tetapi juga tentang keberlanjutan kesejahteraan pekerja .